Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Di Indonesia

Senin, 14 Januari 2019

Cerita Dewasa - Dosen Ku Yang Nakal



CERITA DEWASA - Saya dilahirkan di kota Pekanbaru di provinsi sumatera, kota yang panas sebab terdapat di dataran rendah. Tidak hanya tinggi tubuh seukuran beberapa orang bule, kata temanku wajahku cukup. Mereka katakan Saya hitam manis. Menjadi lelaki, Saya pun bangga sebab waktu SMA dahulu Saya banyak mempunyai rekan-rekan wanita. Meskipun Saya sendiri tidak ada yang tertarik satupun diantara mereka. Kembali kenang masa-masa dahulu Saya terkadang tersenyum sendiri, sebab walaupun begitu masa lalu ialah suatu yang bernilai
dalam diri kita. Ditambah lagi masa lalu manis.Saat ini Saya belajar di salah satunya perguruan tinggi swasta di kota S, ambil jurusan pengetahuan perhotelan. Saya duduk di tingkat akhir. Sebelum pergi dahulu, orang-tua Saya memberi pesan mesti bisa mengakhiri studi pas pada saatnya. Maklum, kondisi ekonomi orangtuSaya pun biasa saja, tidak kaya pun tidak miskin. Ditambah lagi Saya pun mempunyai 3 orang adik yang nanti akan kuliah seperti Saya, hingga butuh cost juga. Saya camkan beberapa kata orangtuSaya. Dalam hati Saya akan janji akan penuhi keinginan mereka, tuntas pas pada saatnya. 

Tetapi beberapa pembaca, telah kutulis diatas jika semua hal yang berlangsung pada Saya tiada Saya bisa mengetahuinya, sampai sekarang ini juga Saya belum juga bisa mengakhiri studiku cuma dikarenakan satu mata kuliah saja yang belumlah lulus, yakni mata kuliah yang berhubugan dengan kalkulasi berhitung. Meskipun telah kuambil saat empat semester, tetapi akhirnya belumlah lulus juga. Untuk mata kuliah yang lainnya Saya bisa mengakhirinya, tetapi untuk mata kuliah yang satu ini Saya betul-betul terasa kesusahan. 
“Coba saja kamu konsultasi pada dosen pembimbing akademis..,” kata temanku Andi saat kami berdua tengah sekedar duduk dalam kamar kost. “Sudah, Di. Tetapi beliau pun terlepas tangan dengan masalahku ini. Kata beliau ini dipastikan oleh dirimu sendiri.” Kata Saya sekalian mengisap rokok dalam-dalam. “Benar pun apakah yang disebutkan beliau, Gi, semua dipastikan dari dirimu sendiri.” sahut Andi sekalian termangu, tangannya repot mainkan korek api di depannya. Lama kami repot terbenam dalam pikiran kami semasing, hingga kemudian Andi berkata, “Gini saja, Gi, kamu langsung menghadap dosen mata kuliah itu, katakan kesulitanmu, mungkin beliau ingin menolong.” kata Andi. 

Dengar pengucapan Andi, saat itu juga Saya langsung ingat dengan dosen mata kuliah yang menjengkelkan itu. Namanya Ibu Frisca, umurnya kurang lebih 35 tahun. Orangnya cukup cantik, pun seksi, tetapi banyak temanku begitupun Saya menjelaskan Ibu Frisca ialah dosen killer, banyak temanku yang dibikin sebal olehnya. Maklum Ibu Frisca belumlah berkeluarga alias masih tetap sendiri, wanita yang masih tetap sendiri gampang tersinggung serta peka. 

“Waduh, Di, bagaimana dapat, ia dosen killer di universitas kita..,” Kata Saya ragu. “Iya sich, tetapi walaupun begitu kamu mesti terang-terangan tentang kesulitanmu, bicaralah baik-baik, waktu beliau tidak ingin menolong..,” kata Andi memberikan pendapat. Saya terdiam sesaat, beberapa pertimbangan tampil di kepala Saya. Dikejar-kejar waktu, pesan orangtua, dosen wanita yang killer. Pada akhirnya Saya berkata, “Baiklah Di, akan kucoba, besok Saya akan menghadap beliau di universitas.” “Nah demikian dong, semua hal mesti dicoba dahulu,” sahut Andi sekalian menepuk-nepuk pundakku. 


Siang itu Saya telah duduk di kantin universitas dengan satu gelas es teh di depanku serta sebatang rokok yang menyala di tanganku. Sebelum berjumpa Ibu Frisca Saya menyengaja bersantai dahulu, sebab bagaimana juga kelak Saya akan grogi melawannya, Saya akan menentramkan diri dahulu sesaat. Tiada Saya sadari, tidak diduga Andi telah berdiri di belakangku sekalian menepuk pundakku, sekejap Saya kaget dibuatnya.

“Ayo Chris, saat ini saatnya. Bu Frisca kulihat barusan tengah ke arah ke ruangannya, mumpung saat ini tidak mengajar, temuilah beliau..!” bisik Andi di telingSaya. “Oke-oke..,” Kata Saya singkat sekalian berdiri, habiskan bekas es teh paling akhir, kubuang rokok yang tersisa dikit, kuambil permen dalam sSaya, kutarik dalam-dalam nafasku. Saya langsung melangkahkan kaki. “Kalau demikian Saya duluan ya, Chris. Sampai bertemu di kost,” sahut Andi sekalian mFriscanggalkanku. Saya cuma bisa melambaikan tangan saja, sebab pikiranku masih tetap berkecamuk ragu, bagaimana Saya mesti menghadapai Ibu Frisca, dosen killer yang masih tetap sendiri itu. 

Perlahan-lahan Saya berjalan menyusupi lorong universitas, situasi begitu lengang waktu itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, apalagi jika saja Saya tidak alami permasalahan ini lebih baik Saya tidur-tiduran saja di kamar kost, bercakap dengan rekan. Cuma sebab permasalahan ini Saya mesti bersusah-susah menjumpai Bu Frisca, agar bisa membantuku dalam permasalahan ini. 

Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruang Bu Frisca terdapat di sudut ruang, hingga tidak ada orang melalui simpang siur di muka ruangannya. Terlihat sekali kondisi yang sepi. Pikirku, “Mungkin saja wanita yang belumlah bersuami inginnya menyendiri saja.” Perlahan kuketuk pintu, tidak lama kemudian terdengar nada dari dalam, “Masuk..!” Saya langsung masuk, kulihat Bu Frisca tengah duduk di belakang mejanya sekalian membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Frisca memandangku sekalian tersenyum, sekejap Saya tidak menduga beliau tersenyum ramah padSaya. Dikit demi sedikit Saya dapat mulai terasa tenang, meskipun masih tetap ada dikit perasaan grogi di hatiku. 



“Silakan duduk, apakah yang dapat Ibu membantu..?” Bu Frisca langsung mempersilakan Saya duduk, sekejap Saya kagum oleh kecantikannya. Bagaimana mungkin dosen yang demikian cantik serta anggun mendapatkan julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, lalu Saya duduk. “Oke, Christoper, ada apakah kesini, ada yang dapat Ibu membantu..?” satu kali lagi Bu Frisca bertanya hal tersebut kepadSaya dengan senyumnya yang masih tetap mengembang. Perlahan kuceritakan masalahku pada Bu Frisca, dari mulai kemauan orang-tua yang ingin Saya cukup cepat mengakhiri studiku, sampai ke mata kuliah yang sekarang ini Saya belumlah bisa mengakhirinya. 

Kulihat Bu Frisca dengan telaten dengarkan ceritSaya sekalian kadang-kadang tersenyum kepadSaya. Lihat kondisi yang demikian Saya makin bertambah semangat menceritakan, sampai selanjutnya dengan spontan Saya berkata, “Apa saja akan kulSayakan Bu Frisca, agar bisa mengakhiri mata kuliah ini. Mungkin satu waktu menolong Ibu bersihkan rumah, perumpamaannya membersihkan piring, mengepel, atau yah, katakanlah membersihkan pakaian juga Saya akan melSayakannya untuk supaya mata kuliah ini bisa saya tuntaskan. Saya minta sekali, berikanlah kemudahan nilai mata kuliah Ibu pada saya.” 

Dengar kejujuran serta perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Frisca ketawa kecil sekalian berdiri menghampiriku, tawa kecil yang terlihat misterius, di mana Saya tidak bisa memahami apakah tujuannya. “Apa saja Christoper..?” kata Bu Frisca seolah menyatakan perkataanku barusan yang dengan spontan keluar dari mulutku barusan dengan suara menanyakan. “Apa saja Bu..!” kutegaskan satu kali lagi perkataanku dengan spontan. 

Tidak lama kemudian tiada kusadari Bu Frisca telah berdiri di belakangku, saat itu Saya masih tetap duduk di kursi sekalian termenung. Sesaat Bu Frisca menggenggam pundakku sekalian berbisik di telingSaya. “Apa saja kan Christoper..?” Saya mengangguk sekalian menunduk, waktu itu Saya belumlah mengerti apakah yang akan berlangsung. Tidak diduga saja dari arah belakang, Bu Frisca telah menghujani pipiku dengan ciuman-ciuman lembut, sebelum sudah sempat Saya tersadar apakah yang akan berlangsung. Bu Frisca tidak diduga saja telah duduk di pangkuanku, merangkul kepalSaya, lalu melumatkan bibirnya ke bibirku. Waktu itu Saya tidak paham apakah yang perlu kulSayakan, saat itu juga ke-2 tangan Bu Frisca menggenggam ke-2 tanganku, lantas meremas-remaskan ke payudaranya yang telah mulai mengencang.



Saya tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya. “Bu, haruskah kita..” Sebelum Saya mengakhiri ucapanku, telunjuk Bu Frisca telah melekat di bibirku, seolah menyuruhku untuk diam. “Sudahlah Christoper, berikut yang Ibu kehendaki..” Sesudah berkata demikian, kembali Bu Frisca melumat bibirku dengan lembut, sekalian menuntun ke-2 tanganku untuk masih meremas-remas payudaranya yang montok sebab telah mengencang. 

Pada akhirnya muncul keinginan kelelakianku yang normal, seolah terhipnotis oleh reaksi Bu Frisca yang menggairahkan serta ucapannya yang demikian pasrah, kami berdua terbenam dalam keinginan sex yang begitu menggelora serta panas. Saya membalas melumat bibirnya yang indah merekah sekalian ke-2 tanganku selalu meremas-remas ke-2 payudaranya yang masih tetap tertutup oleh pakaian itu tak perlu diarahkan kembali. Tangan Bu Frisca turun ke bawah perutku, lalu mengusap-usap kemaluanku yang telah mengencang hebat. Diteruskan lalu satu-satu kancing-kancing bajuku dibuka oleh Bu Frisca, dengan reflek juga Saya mulai buka satu-satu kancing pakaian Bu Frisca sekalian selalu bibirku melumat bibirnya. 

Sesudah bisa buka pakaiannya, begitu halnya bajuku yang telah lepas, gairah kami makin mencapai puncak, kulihat ke-2 payudara Bu Frisca yang menggunakan BH itu mengencang, payudaranya menyembul indah diantara BH-nya. Kuciumi ke-2 payudara itu, kulumat belahannya, payudara yang putih serta indah. Kudengar nada Bu Frisca yang mendesah-desah rasakan kFriscakmatan yang kuberikan. Ke-2 tangan Bu Frisca mengelus-elus dadSaya yang bagian. Lama Saya menciumi serta melumat ke-2 payudaranya dengan ke-2 tanganku yang kadang-kadang meremas-remas serta mengusap-usap payudara serta perutnya. 

Pada akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, sesudah terlepas kubuang BH ke samping. Waktu itu Saya betul-betul bisa lihat dengan utuh ke-2 payudara yang mulus, putih serta mengencang hebat, menonjol cocok di dadanya. Kulumat putingnya dengan mulutku sekalian tanganku meremas-remas payudaranya yang lainnya. Puting yang menonjol indah itu kukulum dengan penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Frisca yang makin menggelora. “Oh.., oh.., Christoper.. lanjutkan.., lanjutkan Christoper..!” desah Bu Frisca dengan pasrah serta memelas. Lihat keadaan semacam itu, kejantananku makin mencapai puncak. Dengan penuh gairah yang mengebu-gebu, ke-2 puting Bu Frisca kukulum bergantian sekalian ke-2 tanganku mengusap-usap punggungnya, ke-2 puting yang menonjol pas di wajahku. Payudara yang mengencang keras. 

Lama Saya melSayakannya, hingga kemudian sekalian berbisik Bu Frisca berkata, “Angkat Saya ke atas meja Christoper.., mari angkat Saya..!” Spontan kubopong badan Bu Frisca mengarah meja, kududukkan, lalu dengan reflek Saya singkirkan beberapa barang diatas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai secara cepat, untung lantainya menggunakan karpet, hingga nada yang diakibatkan tidaklah terlalu keras. 

Masih juga dalam kondisi duduk diatas meja serta Saya berdiri di depannya, tangan Bu Frisca langsung meraba sabukku, buka pengaitnya, lalu buka celanSaya serta menjatuhkannya ke bawah. Langsung Saya selekasnya buka celana dalamku, serta melemparkannya ke samping. Kulihat Bu Frisca tersenyum serta berkata lirih, “Oh.. Christoper.., begitu jantannya kamu.. kemaluanmu demikian panjang serta besar.. Oh.. Christoper, Saya telah tidak tahan kembali untuk merasakan.” Saya tersenyum pun, kuperhatikan badan Bu Frisca yang 1/2 telanjang itu. 

Lalu sekalian kurebahkan tubuhnya diatas meja dengan tempat Saya berdiri diantara ke-2 pahanya yang telentang dengan rok yang tersibak hingga terlihat pahanya yang putih mulus, kuciumi payudaranya, kulumat putingnya dengan penuh gairah, sekalian tanganku bergerilya diantara pahanya. Saya memang inginkan pemanasan ini cukup lama, kurasakan badan kami yang berkeringat sebab gairah yang muncul diantara Saya serta Bu Frisca. Kutelusuri badan Bu Frisca yang 1/2 telanjang serta telentang itu dari mulai perut, lalu ke-2 payudaranya yang montok, lantas leher. Kudengar desahan-desahan serta rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Frisca. 



Sampai saat Bu Frisca menyuruhku untuk buka roknya, perlahan kubuka kancing pengait rok Bu Frisca, kubuka restletingnya, lalu kuturunkan roknya, lantas kujatuhkan ke bawah. Sesudah itu kubuka serta kuturunkan pun celana dalamnya. Saat itu juga keinginan kelelakianku makin menggelora untuk lihat badan Bu Frisca yang telah telanjang bundar, badan yang indah serta seksi, dengan gundukan daging diantara pahanya yang tertutupi oleh rambut yang demikian rimbun. Terdengar Bu Frisca berkata pasrah, “Ayolah Christoper.., apakah yang kau nantikan..? Ibu telah tidak tahan kembali.” 

Kurasakan tangan Bu Frisca memegang kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat diantara pahanya. Saya ikuti tekad Bu Frisca yang telah mencapai puncak itu, perlahan-lahan tetapi tentu kumasukkan kemaluanku yang telah mengencang keras seperti punya kuda perkasa itu ke vagina Bu Frisca. Kurasakan punya Bu Frisca yang masih tetap cukup sempit. Pada akhirnya sesudah dikit bersusah payah, semua batang kemaluanku ambles ke vagina Bu Frisca. Terdengar Bu Frisca mendesah serta mendesah, “Oh.., oh.., Christoper.. selalu Christoper.. janganlah bebaskan Christoper.. Saya minta..!” Tiada fikir panjang kembali dibarengi hasratku yang telah menggelora, kugerakkan ke-2 pantatku maju-mundur dengan tempat Bu Frisca yang telentang diatas meja serta Saya berdiri diantara ke-2 pahanya. 

Sebelumnya teratur, selaras dengan goyangan-goyangan pantat Bu Frisca. Seringkali kudengar rintihan-rintihan serta desahan Bu Frisca sebab meredam kFriscakmatan yang sangat begitu. Begitupun Saya, kuciumi serta kulumat ke-2 payudara Bu Frisca dengan mulutku. Kurasakan ke-2 tangan Bu Frisca meremas-remas rambutku sekalian kadang-kadang mendesah, “Oh.. Christoper.. oh.. Christoper.. janganlah bebaskan Christoper, kumohon..!” Dengar rintihan Bu Frisca, gairahku makin mencapai puncak, goyanganku makin bertambah ganas, kugerakkan ke-2 pantatku maju-mundur makin cepat. Terdengar kembali nada Bu Frisca mendesah, “Oh.. Christoper.. kamu memang perkasa.., kau memang jantan.. Christoper.. Saya mulai keluar.. oh..!” “Ayolah Bu.., ayolah kita sampai puncak bersama, Saya juga tidak tahan kembali,” keluhku. 

Sesudah berkata demikian, kurasakan tubuhku serta badan Bu Frisca mengejang, seolah-olah terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kFriscakmatan yang keluar dari kemaluanku, makin kurapatkan kemaluanku ke vagina Bu Frisca. Terdengar aduan serta rintihan panjang dari mulut Bu Frisca, kurasakan pun dadSaya digigit oleh Bu Frisca, seolah-olah nmenahan kFriscakmatan yang sangat begitu. “Oh.. Christoper.. oh.. oh.. oh..” Sesudah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke vagina Bu Frisca, kurasakan tubuhku yang begitu kecapekan, kutelungkupkan badanku diatas tubuh Bu Frisca dengan masih juga dalam keadan telanjang, cukup lama Saya telungkup di atasnya. 

Sesudah kurasakan kelelahanku mulai menyusut, Saya langsung bangun serta berkata, “Bu, apa yang telah kita lSayakan barusan..?” Kembali Bu Frisca memotong pembicaraanku, “Sudahlah Christoper, tadi itu biarkanlah berlangsung sebab kita saling menginginkannya, saat ini pulanglah serta ini alamat Ibu, Ibu ingin narasi banyak padamu, kamu ingin kan..?” Sesudah berkata demikian, Bu Frisca langsung menyodorkan kartu namanya kepadSaya. Kuterima kartu nama yang berisi alamat itu. 

Sesaat kutermangu, kembali Saya dikejutkan oleh nada Bu Frisca, “Christoper, pulanglah, gunakan kembali pakaianmu..!” Tiada basa-basi kembali, Saya langsung kenakan pakaianku, lalu buka pintu serta keluar ruang. Dengan gontai Saya berjalan keluar universitas sekalian pikiranku berkecamuk dengan peristiwa yang barusan berlangsung pada Saya dengan Bu Frisca. Saya sudah bermain cinta dengan dosen killer itu. Bagaimana itu dapat berlangsung, semuanya di luar kehendakku. Pada akhirnya walaupun begitu kelak malam Saya mesti ke rumah Bu Frisca. Narasi mesum 



Kudapati rumah itu demikian kecil tetapi asri dengan tanaman serta bunga di halaman depan yang teratur rapi, cocok sekali keadannya. Langsung kupencet bel di pintu, selang beberapa saat Bu Frisce sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Frisca tersenyum serta mempersilakan Saya masuk ke. Kuketahui nyatanya Bu Frisca hidup sendirian di dalam rumah ini. Sesudah duduk, lalu kami juga mengobrol. Sesudah demikian lama mengobrol, pada akhirnya kuketahui jika Bu Frisca sampai kini banyak dikecewakan oleh lelaki yang dicintainya. Semua lelaki itu cuma inginkan tubuhnya saja bukan cintanya. Sesudah jemu, lelaki itu mFriscanggalkan Bu Frisca. Lantas dengan jujur juga ia memintSaya saat masih tetap mengakhiri studi, Saya dimintanya menjadi rekan sekaligus juga kekasihnya. Pada akhirnya Saya mulai mengerti jika posisiku tidak beda dengan gigolo. 

Kudengar Bu Frisca berkata, “Selama kamu belum juga wisuda, tetaplah jadi rekan serta kekasih Ibu. Apapun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu supaya lulus, semua akan Ibu penuhi, memahami kan Christoper..?” Tidak hanya lihat kesendirian Bu Frisca tanpa lelaki yang bisa memuaskan hasratnya, Saya juga memperhitungkan kelulusan nilai mata kuliahku. Pada akhirnya Saya juga bersedia terima penawarannya. 

Pada akhirnya malam itu pun Saya serta Bu Frisca kembali melSayakan apakah yang kami lSayakan tadi siang di ruang Bu Frisca, di universitas. Tapi perbedaannya kesempatan ini Saya tidak canggung kembali melayani Bu Frisca dalam bercinta. Kami bercinta dengan hebat malam itu, 3 kali tadi malam, kulihat senyum kenikmatan di muka Bu Frisca. Walaupun begitu serta entahlah sampai kapan, Saya akan tetap melayani keinginan seksualnya yang terlalu berlebih, sebab memang benar ada agunan tentang kelulusan mata kuliahku yang tidak lulus-lulus itu dari dahulu.

REPOST BY : SITUS JUDI ONLINE


Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Dan Terbaik Di Indonesia