Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Di Indonesia

Senin, 04 Maret 2019

Cerita Sexs - Bercinta Di Ruangan Kampus Komputer


Cerita Sexs - Yakin jika hari sudah tengah malam. Saya masih tetap ada di ruangan computer universitas sendirian. Pegal rasa-rasanya sepanjang hari menulis pekerjaan yang perlu diserahkan besok pagi. Untunglah pada akhirnya tuntas juga. Sekalian melepas capek iseng-iseng saya membuka internet serta masuk ke blog-blog porno. Saya buka gambar-gambar orang bersenggama melalui anus. Sebelumnya berasa aneh, tetapi lama-lama saya rasakan fantasi lainnya. Saya rasakan erangan wanita yang kesakitan sebab lubang duburnya yang sempit ditembus dengan kemaluan yang mengeras. Ah.. khayalanku makin jauh. 

Tidak diduga saya dikejutkan dengan nada pintu ruang buka serta tutup. Hii.. saya lihat telah jam 22:30, malam-malam berikut pikiranku jadi memikirkan beberapa hal menakutkan. Tetapi lalu saya dikejutkan kembali saat lihat seseorang wanita membawa map berisi beberapa lembar kertas serta dua buah buku tipis masuk lalu menaruhnya di samping computer, lantas menyalakan computer serta menulis. Komputernya terhambat tiga meja computer di sebelahku. Saya jadi lega, saat ini ada rekan, meskipun ia tidak memerhatikan saya benar-benar. Saya lihat dari samping, mukanya manis dengan hidung yang kecil serta mancung. Kulitnya tidaklah terlalu putih, tetapi mulus dengan jaket jeans lengan pendek yang dikenakannya, ia terlihat cantik. 
Tetapi, akh perduli sangat. Saya meneruskan buka-buka situs barusan, anganku makin menerawang, kemaluanku cukup menegang. Serta pada akhirnya saya melirik pada wanita di ruang itu, serta langsung saya melirik pantatnya. Besar! pikirku. Tidak diduga saja saya membayang jika kemaluanku merobek-robek pantatnya yang mengundang selera itu. Saya jadi deg-degan, makin dipikirkan makin menjadi-jadi kemaluanku menegang. Hingga kemudian saya nekat mendekati ia. Saya coba menentramkan diriku supaya terlihat normal. 


“Ma’af.. tengah kerjakan pekerjaan?” suaraku dikit bergetar. 
Ia melirikku sesaat lantas matanya tertuju kembali ke monitor computer, sekalian menjawab, 
“Iya.. Mas.. saya kelupaan tuliskan beberapa judul buku dalam rincian kepustakaan, hanya sedikit kok.” 
“Rumahnya deket sini?” 
“Iya di asrama, serta saya biasa kerja malam-malam berikut,” jawabnya. 
“Nah.. tuntas deh,” ia membereskan kertas-kertas, lantas terdengar nada mesin printer kerja. 
Ia ambil akhirnya serta terlihat senang. 
“Bisa pulang saling?” saya menanyakan sekalian mataku sebentar-sebentar mengambil pandang mengarah pantatnya yang terlihat besar membayang di balik celana trainning kain parasitnya. Aduh, dadaku mendesir. 


“Sebentar saya tutup dahulu komputerku ya..” 
Saya bergegas pergi ke komputerku. 
“Mas tengah ngerjakan apaan?” 
Saya kaget tidak menduga jika ia ikuti saya. 
“Ah.. ini.. iseng-iseng saja buka-buka internet, lelah sich ngetik serius selalu dari barusan.” 
“Eh.. gambar-gambar gituan yaa? Hi ih!” ia mengusung bahunya, tetapi mulutnya tersenyum. 
“Ah.. iseng-iseng saja.. Ingin ikut-ikutan liat-liat?” tidak diduga keberanianku muncul. Serta di luar pendapat ia tidak menampik. 


“Tapi bentar saja yaa.. entar keburu malam!” ia langsung duduk di kursi sebelahku. 
Lama-lama kami semakin asik buka-buka gambar porno, hingga kemudian, 
“Aku ingin pulang deh Mas. Sudah malem.. Saya dapat pulang sedirian.. deket kok.” 
Ia siap berdiri. Tetapi dengan reflek tanganku cepat menggenggam pergelangannya. Ia terperanjat. Saya tidak memperdulikan apa-apa kembali, terkecuali mempraktikkan gambar-gambar yang disaksikan barusan. Kemaluanku telah menegang. 
Tiada basa basi saya langsung menempati pahanya serta langsung melumat bibirnya. “Umh.. mh..” ia berupaya meronta serta menarik kepalanya ke belakang, tetapi tangan kiriku cepat meredam belakang kepalanya, sesaat tangan kananku telah menggenggam buah dadanya, memutar-mutar, serta meremas-remas putingnya. Pergerakan wanita itu lama-lama semakin lemah, pada akhirnya saya berani melepas ciumanku, serta berubah menciumi beberapa bagian badan lainnya, leher, belakang telinga, kembali pada leher, lantas turun ke sisi belahan buah dadanya. Saya lihat ia pun menikmatinya. Matanya mulai sayu, bibirnya terbuka merekah. 

“Namamu siapa?” saya nampaknya cukup dapat mengatur kondisi. Ia tidak menjawab. Cuma matanya yang sayu itu melihat kepadaku. Saya tidak memahami tujuannya. Tetapi ah tidak peduli saya mengusung berdiri tubuhnya, lantas saya duduk di kursi, kutarik badannya serta ia duduk di pangkuanku. “Ehh.. hh..” ia berdesah saat kepalaku menyeruduk buah dada yang masih tetap terhambat T-shirt merah muda dibalik jaket jeans yang terbuka kancingnya. Tanganku selekasnya meningkatkan kaosnya, hingga terlihat sisi bawah dadanya yang masih tetap ada dibalik BH. Kunaikkan BH-nya tiada melepas, serta kembali mulutku berlaga pada putingnya, sesaat tanganku meremas-remas pantatnya serta pahanya. 

“Oohh.. Mas.. Mas.. Aoohh..” saya makin menggila dengar desahnya. Lantas saya ingin melakukan niatku untuk menembuskan batang kemaluanku ke pantatnya. Kubalikkan badannya hingga ia membelakangiku. Saya juga berdiri serta turunkan celana trainingnya dengan gampang. Dengan tidak sabar celana dalamnya juga selekasnya kuturunkan. Saya duduk serta kutarik badannya hingga pantatnya menempati kemaluanku. “Aghh.. Uhh” saya terperanjat sebab kemaluanku yang tengah menegang itu rasa-rasanya ingin patah diduduki pantatnya. Tetapi nafsuku menghilangkan perasaan sakit itu. Saya genggam kemaluanku serta kutempelkan ke lubang duburnya, lantas kutekan. “Aaah..” ia menjerit, tubuhnya mengejang ke belakang. Tetapi kemaluanku tidak dapat masuk. Sangat sempit lubangnya. Keberingasanku semakin jadi. Saya dorong tubuhnya hingga tempat badannya membungkuk pada meja computer. Pantatnya terlihat jelas, bundar. Pelukanku dari belakang tubuhnya membuat ia terhimpit di meja. Kutempelkan kemaluanku pada lubang pantatnya. Sesaat tangan kiriku meremas buah dada kirinya. Mulutku juga tidak henti-hentinya menggerayangi sisi belakang leher serta punggungnya. Dengan sekali hentak paksa, kudorong masuk kemaluanku. “Aih.. ah uh aoowww..” saya juga mersa dikit kesakitan, tetapi kesenangan yang tanpa taranya kurasakan. “Jangan.. aduh aahh sakiit, tidak deh.. ahh..” Saya makin bernafsu dengar rintihannya. Sekalian memeluk buah dadanya., kutarik ia berdiri. Lantas saya juga menggerakan kemaluanku maju mundur, mulutku menciumi pipinya dari samping belakang, sesaat tanganku meremas buah dadanya, seakan-akan ingin menghancur lumatkan badan wanita yang sintal itu. 

Wanita itu tidak henti-hentinya mendesah, terpenting saat kemaluanku kudorong masuk. Beberapa tetes air mata menggelinding di pipinya. Mungkin kesakitan, saya tidak paham. Tetapi apakah daya saya juga tidak kuat meredam keluar air maniku kembali serta tubuhku mengejang, wanita itupun mengejang serta mendesah, sebab tanganku dengan begitu keras meremas buah dadanya. Badannya turut tertarik ke belakang, serta mulutku tiada berasa menggigit lehernya. “Ouhh.. hh..” kesenangan mengagumkan saat kemaluanku menyemburkan air maniku ke pantatnya. Hangat sekali. Saya terduduk ia juga terduduk diatas kemaluanku yang masih tetap menancap di pantatnya. Kepalaku terkulai di punggungnya. Wanita itu melihat mengarah monitor computer dengan pandangan kosong. Sesaat tetes air matanya masih tetap selalu membasahi pipinya. 



“Ma’afkan saya.. Saya tidak kuat nahan diri,” saya coba menghiburnya. Tetapi ia tidak menjawab. 
“Siapa namamu?” tanyaku dengan lembut. Kembali ia membisu. 
“Aku ingin pulang.. kamu tak perlu nganter saya.. agar beberapa orang tidak bertanya macem-macem,” tuturnya dengan nada perlahan-lahan. 
“Aku sebetulnya tahu siapa kamu.. Mas,” ia bicara tiada melihat ke arahku. 
“Ha.. saya..” saya tekejut. 
“Ya.. sebab saya teman baru pacarmu, Yuni, saya sempat simak foto-fotomu dalam tempat ia.” 
Kali inilah menatapku dengan tajam. 
“Tapi.. saya benar-benar tidak sangka kelakuanmu semacam ini,” tuntas ia meningkatkan celana serta membenarkan BH serta T-shirtnya. 
“Tapi tak perlu cemas saya tidak akan narasi peristiwa ini, saya takut ini akan melukai hatinya. Ia setia sama kamu,” sambungnya. 
“Kamu tidak.. kasian ama ia?” 
Saya terdiam, termangu, bahkan juga tidak mengerti jika ia telah berlalu.tonton film click di tempat ini 

Belakangan ini saya tahu nama gadis itu Rani, memang ia rekan pacarku, Yuni. Saya menyesali perbuatanku. Rani masih baik pada kami berdua. Kami bahkan juga jadi sahabat karib. Seperti belum pernah berlangsung apa-apa. Entahlah sampai kapan ia akan menaruh rahasia ini. Saya terkadang cemas, terkadang pun melihat iba pada Rani. Oh, saya sudah merusak gadis yang tulus.





Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Dan Terbaik Di Indonesia