Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Di Indonesia

Senin, 14 Januari 2019

Cerita Dewasa - Mantanku Selingkuhanku Pemuasku



Cerita Dewasa - Mantanku Selingkuhanku Pemuasku – Niki ialah bekas kekasihku beberapa waktu lampau. Dia menikah dengan pria lainnya tahun 1996, saya menyusul dua tahun lalu, waktu itu Niki telah memiliki anak satu. Kami berpisah baik-baik, serta selanjutnya kami masih tetap terkait. Saya pun kenal baik dengan suaminya. Saya serta Niki saling kerja di perusahaan konsultan. Setelah menikah dia bekerja di salah satunya project, sedang saya di head office, hingga kami lama tidak bertemu. 


Cerita Sex Selingkuh – ini berlangsung pada pertengahan tahun 2000, waktu dia kembali bekerja di Head office jadi sekretaris salah seseorang expert kami dari Hongkong. Saya seringkali terkait kerja dengannya. Sebelumnya kami bersama dengan dalam pekerjaan. Semakin lama bersambung untuk beberapa hal di luar kerjaan, sampai tidak berasa rutinitas dahulu kembali muncul. Contohnya makan siang. Seperti dahulu waktu masih tetap pacaran, seringkali dia ‘mencomot’ lauk dari piringku, atau suatu yang dia makan dikasihkan separuh ke piringku. Kebiasaanku mempersiapkan sendok serta minuman untuk dia, atau habiskan makanannya pun jadi rutinitas, seakan perihal yang lumrah saja dalam jalinan kami. 

Untungnya rekan-rekan sekantor pun menganggap lumrah. Seringkali pun kami bercakap masalah rumah tangga, suami(nya), istri(ku), serta anak-anak (kami). Tidak ada narasi buruk, semua baik-baik saja. Tetapi dibalik yang ‘baik-baik’ tersirat kerinduan (atau kecewaan?) tersembunyi. Dalam situasi seperti itu jalinan kami bersambung serta membuahkan kisah-kisah yang beberapa kucuplik di sini, spesial yang miliki kesan-kesan mendalam untukku. Pertama: Saung Ikan Mas Hari itu bossnya Niki tengah ke tempat klien. 

Si boss bawa serta mobil sendiri, jadi seperti biasa Niki manfaatkan mobil kantor yang menganggur buat berjalan-jalan. Driver-nya cs kami, jadi dia mengajakku masuk mencari makan siang di luar. ( “Kamu yang traktir yaa..” tuturnya). Jam 11.30 kami bertiga pergi ke Cwie Mie Fatmawati. Baru sampai di Prapatan Pejaten (kantor kami di Buncit), si boss menelpon meminta agar driver-nya menyusul sebab tidak enak tubuh. Tujuannya meminta disupiri pulang.Driver kami turun sekalian mengomel, meminta uang taksi ke Niki selalu menyusul bossnya di seputar blok M. Niki menukar pegang kemudi (dahulu, Niki yang mengajariku bawa serta mobil) serta meneruskan perjalanan. 

“Kalo dahulu, sekalian nyetir gini umumnya saya dipijitin..” Niki mulai buka masa lalu. 
“Sekarang pun bisa..” kataku, sekalian menyeka lututnya, umumnya saya geser ke belakang, memijat leher serta pundaknya dari belakang, serta tentunya selesai di payudaranya. 
“Jangaan ahh, kacanya jelas..” kata Niki. 

Usapan di lutut memang lebih aman dari pandangan mobil lainnya. Dari desahan ‘ahh’-nya kurasakan jika Niki menikmatinya. 

“Kita ke saung saja yuk..!” lanjut Niki. 

Saung ialah arti kami berdua untuk satu restoran pemancingan di seputar Ragunan.Saya tidak menjawab, cuma makin tingkatkan sentuhan di lutut serta ke atas ‘sedikit’ sekalian mata masih siaga memonitor kiri kanan takut dilongok pengendara motor. Niki dengan terampil meluncurkan mobil di selama jalan dengan meminimalisir pemakaian kopling agar paha kirinya lebih gampang dapat dijangkau jari-jariku. 




“Berapa tahun saya tidak nyentuh ini..” kataku waktu jariku mulai nyelusuri pinggir CD-nya. 

Niki cukup tergetar oleh sentuhanku itu, sekalian mendesis dia mengoyangkan kakinya. 

“Kamu bangun tidak Mas..?” tuturnya (dia memanggilku ‘Mas’). 
“Liat saja,” jawabku. 

Dia melirik serta terkikik lihat benjolan yang mengeras di celanaku. 

“Hihihi.. masih tetap mempan juga. .” 
“Masih dong, remasanmu belumlah ada duanya..” Restoran itu terdapat di tepi kolam, dikaitkan ke sejumlah saung (gubuk dari bambu) di dalam kolam dengan jembatan kayu. 

Saung beratap rumbia ukuran 2,5 m x 2,5 m itu dikasih pagar bambu rapat setinggi 60 cm. Sisi atasnya terbuka hingga bisa diawasi dari jauh, tetapi diperlengkapi krey bambu yang jarang-jarang, serta bisa di turunkan ‘kalau perlu’, pun disiapkan bantal duduk. Tidak ada pengunjung lainnya. Kami melalui jembatan kayu, pilih saung yang sangat jauh dari kasir, serta pesan makanan yang sangat cepat saji. Tidak lupa kami meminta krey di turunkan. Demikian pelayan pergi, saya selekasnya menjatuhkan pantatku di sampingnya. Dia menyandar ke tiang bambu di sudut, bersila di bantal dengan cuek. Saya melanjutkan elusanku yang berhenti, telusuri pahanya yang terbuka. 

“Mana dong yang keras-keras barusan, saya pegang..” tuturnya tiada memedulikan jariku yang telah tenggelam di roknya. 

Saya merapatkan duduk supaya dapat dijangkau tangannya. Dia menekan-nekan celana dibagian penisku dengan ke empat jarinya.Dengan berhati-hati sabukku dibuka, lantas zipku di turunkan. Dari sela- celah pakaian serta singlet, dirogohnya penisku yang telah mengeras lantas diusapnya lembut. 

“Segini saja dahulu, agar mudah ditutup,” tuturnya waktu saya ingin turunkan celana panjang.Perasaan nikmat yang halus merambat seperti saluran setrum dari selangkanganku, menyebar ke kaki, tubuh selalu ke otak. Kami duduk berdampingan, saya selonjor dengan penis muncul keluar dari celana, sesaat paha kiri Niki menyokong diatas paha kananku, kirinya menyeka lembut batangku sesaat sekalian nikmati elusannya, tangan kananku lakukan eksplorasi ke permukaan vaginanya yang terbungkus CD. 

Percumbuan mudah itu berhenti saat pelayan hadir membawa pesanan.Saya meningkatkan zipku kembali sambil merapatkan jaket. 

“Sana kamu ke kamar mandi Mas, CD sama singletnya dikantongin saja. Sabuknya masukin tas,” dia berbisik memerintahku (Dari dahulu saya senang ‘perintah- perintahnya’ Dia membereskan makanan sesaat saya ke kamar mandi, membukai semua sesuai dengan petunjuk serta membersihkan batangku agar dingin serta fresh kembali. 

Keluar kamar mandi, saya berpapasan dengan Niki ke arah ke tempat yang sama sekalian mengedipi saya. Sekalian menanti, memikirkan tingkah Niki batangku yang baru didinginkan mengeras kembali. Saya tidak menyentuh makanan, cuma minum Aqua untuk kurangi berbau mulut. Niki hadir langsung duduk di bantal kembali. 

“Udah lega.. ganjelnya sudah masuk sini semua.. Beha, CD..” Niki melemparkan tasnya. Saya kembali merapat. 
“Jangan deket-deket, terlihat dari kasir,” dia menahan. 

Tangan kiriku berubah ke perutnya, pelan-pelan menggeser ke atas.Semua ‘daleman’ Niki telah tersimpan dengan aman di tas. Niki merintih waktu tanganku menyentuh bulatan kenyal itu, menggeser tempat hingga bisa mengamati kasir di seberang, sekaligus juga mempermudah saya ‘bekerja’. Dia kembali mendesah lirih waktu kusentuh putingnya. Darahku naik-turun rasakan lembutnya buah dada Niki. Beda dengan dahulu, saat ini lebih berisi sebab menyusui. Saya tidak berani mencium bibir atau mendekapnya sebab kepala kami terlihat sayup dari restoran. 

Perlahan-lahan kubuka kancing blus dengan tersisa satu kancing teratas (Niki biasa demikian agar cepat ‘memberesinya’) sampai saya bisa bebas menciumi perutnya.Buah dada Niki mengembang fresh, putingnya yang menonjol telah mulai mengeras, coklat dilingkari semburat merah jambu. Dengan lembut jariku mengelus puting itu. Kuremas badan Niki dengan penuh perasaan. Lidahku menelusuri perutnya, membuat Niki mendesah-desah dengan mata 1/2 terpejam. Bersembunyi dibalik blus longgarnya, ciumanku berubah ke buah dada. Lidahku berputar menyapu lingkaran merah di sekitar puting, lantas dilanjutkan dengan mengulum ujungnya. 



Selain itu tanganku menelusuri gunung yang sampingnya. Niki makin merintih-rintih nikmati sentuhanku. Birahinya makin menggebu-gebu. Sekalian masih menciumi puting susu, tangan kiriku geser menelusuri paha Niki sekalian tangan yang lain menyelinap ke belakang, buka hubungan roknya. Sentuhan serta rabaanku pada akhirnya sampai ke pangkal pahanya yang tidak terbungkus apakah apa.Usapanku pada bukit lembut yang ditumbuhi bulu halus membuat birahi Niki menggelegak, meluap ke semua nadi serta pori-pori. Saat tanganku menyelusup ke sela kewanitaannya yang basah, Niki semakin menggeliat tidak teratasi. 

“Ahh.. Mass, ahh..” Niki mendesah tidak karuan, sesaat sekujur tubuhnya mulai dirangsang nikmat yang tidak tertahankan. 

Dengan hati- hati rok Niki kusingkapkan, pahanya yang mulus telah menganga menantikan sentuhan lebih jauh.Sela di pangkal paha Niki yang tertutupi rambut halus, merekah indah. Kepalaku menyelinap ke roknya yang terungkap, Niki mengangkangkan pahanya lebar-lebar sambil menyodorkan pangkal pahanya, memudahkanku sampai lembahnya. Jariku mengusap-usap sela itu yang mulai basah serta menebal, sesaat lidahku menciumi pinggir bulu-bulu kemaluannya. Niki mengeluh keenakan waktu jari-jariku menggetar serta memilin kelentitnya. 

“Akh.. Mas, hilang ingatan..! Sudah dong Mass..!” Jari-jariku membasahi kelentit Niki dengan cairan yang merembes keluar dari celahnya. 

Tiap-tiap jariku mengorek lubang kemaluan untuk membasahi kelentit, Niki menggeliat kelojotan.Ditambah lagi sekalian membenamkan jari, saya memutar-mutarkannya dikit. Sekalian meremas rambutku yang masih tetap menciumi pubisnya, Niki mencari- mencari zipku, bertemu, selalu dibukanya. Serta kemaluanku yang telah menegang kencang terlepas dari ‘kungkungan’.Batangku tidaklah terlalu panjang, tetapi lumayan besar serta padat. Sesaat ujungnya yang tertutupi topi baja licin mengkilat, berjalan kembang kempis. Di ujung topi itu, lubang kecilku telah licin berair. 

Sesaat badan Niki semakin melengkung serta tinggal punggungnya yang bertumpu sebab pahanya mengangkang makin lebar, saya juga berupaya mencari tempat yang enak.Sekalian menindih paha kirinya, wajahku membenam di selangkangan menjilati lipatan pangkal pahanya dengan bernafsu, serta tangan kiri masih bebas menelusuri liang kemaluannya. Pinggulku mendekat ke tubuhnya untuk mempermudah dia mencapai batangku. Masalah ‘keamanan lingkungan’ seutuhnya kupercayakan pada Niki yang bisa melihat seputar. Dengan gemas tangan Niki mencapai tonggakku yang makin tegak mengeras. 

Jari-jarinya yang halus serta dingin selekasnya jadi hangat saat sukses memegang batang itu. 
Saat pangkal paha Niki muncul makin terbuka, ciumanku datang di pinggir bibir vaginanya. Ciuman pada vaginanya membuat Niki bergetar.Saat lidahku yang menelusuri bibir kemaluan menggelitik kelentitnya, Niki makin mengasongkan pinggulnya.Kemarin. ., tidak diduga dia mengeluh, kaki kanannya terlipat memiting kepalaku serta tangannya mencengkeram pangkal leherku, mendesakkan mulut vaginanya ke bibirku, serta mengejang disana. Niki orgasme! Niki menyandar lemas di tiang pagar. 

Tetapi itu tidak berjalan lama, selekasnya didorongnya tubuhku telentang serta dimintanya merapat ke dinding bambu. Saya memahami yang dimauinya, saya tahu orgasmenya belumlah selesai, tetapi saya masih tetap sangsi.Sebelumnya saya cuma ingin tawarkan kesenangan melalui lidah serta jariku, tetapi sekarang telanjur Niki ingin lebih. 

“Kamu oke, Ki..?” tanyaku. Dia mengangguk. 
“Aman..?” lanjutku sekalian memutar biji mataku berkeliling-keliling. Dia kembali mengangguk. 
“Ayo.. sini..!” kataku memberikan kode tapak tangan menyilang, Niki langsung memahami bahasa kami waktu pacaran.

Dia mengangkang diatas badanku, jongkok membelakangiku serta kembali menghadap ke restoran. Dia mengusung rok serta memundurkan pinggulnya sampai vaginanya pas di mulutku. Tanganku yang menganggur merogoh saku, ambil ‘sarung’ yang telah kusiapkan, kuselipkan di tangan Niki. 

“Ihh, sudah bersiap yaa..?” tuturnya, sekalian mencubit batangku. 

Dengan samping tangan bertopang pada dinding bambu, Niki berjongkok di wajahku yang berkerudung roknya.Dengan mendesah dia menggerakkan pinggulnya, menyapukan vaginanya ke lidahku yang menjulur, terkadang menekan hidungku dengan desakan teratur.Tangannya samping kembali mengurut perlahan penisku yang makin tegang, lantas dengan sulit payah berupaya menempatkan ‘sarung’ dengan samping tangan, tidak berhasil, justru dibuang ke lantai.Waktu sapuan vaginanya di bibirku makin kuat sesaat lidahku yang menjulur telah kebanjiran cairannya, pinggulnya ditarik dari mulutku, berjalan menuruni tubuhku mengarah selangkangan. 



Saya tidak tinggal diam, vaginanya yang terlepas dari lidahku kurogoh, kujelajahi dengan jari-jariku.Niki makin menggelinjang, pahanya mengangkang menginginkan datangnya tusukanku, sesaat tangannya yang memegang mengarahkan kemaluan itu ke liang vaginanya yang telah berdenyut keras. 

“Mas.. masukin yaa..!” Niki mendesah sekalian menarik batang kemaluanku, sesaat saya masih tetap mainkan jari di kelentit serta liangnya. 
“Hhh, kamu lepaass dahulu.. Ini sudah keras sekali..!” Saya menggantikan memegang tongkat. 

Kusentuh serta kugosok-gosokkan otot perkasa yang ujungnya mulai basah itu ke kelentit Niki. Niki melenguh. Sentuhan dengan ujung kemaluan yang lembut serta basah membuat kelentitnya terasanya dijilati lidah. Napas Niki makin terengah-engah.Sesudah senang membasahi kelentit, saya geser ke mulut vagina. Kuputar- putarkan tongkat kenikmatanku di mulut lorong Niki. Membuat makin kelojotan serta medesah dengan sendu. Dia berupaya mendesak tetapi tertahan tangan yang memegang batangku. 

“Masukin dong Mas..!” Niki menjerit lirih.Dengan gemetar saya melepas tongkatku, topi bajaku menyentuh mulut vagina Niki. 

Lalu dengan berhati-hati dia menggerakkan pelan-pelan, sampai kepala penisku membenam di liang itu. Saya mengeluh, kepala kemaluanku seolah diremas oleh cincin yang memutari liang sempit punya Niki. 

“Uhh.. enak Yang..!” Niki tebeliak-beliak sekalian melenguh saat kemaluanku menyodok masuk lebih dalam ke liang enaknya. 

Dinding vaginanya yang lembut tergetar oleh nikmat yang menggelitik sebab gesekan ototku.Niki lalu pelan-pelan mengusung pinggul, menarik keluar batang kemaluanku. Dia mendesis panjang. Menggumam sekalian menggigit bibir. Demikian juga saat menggerakkan, menelan tongkatku yang kembali membenam di liang vaginanya.Niki rasakan nikmat yang tidak habis-habisnya. 

“Auughh.. Yang..! Teruus..!” 
“E.. emhh.. kamu goyyaang teruss..!”Kemudian Niki memiringkan badannya, memberikan kode padaku. 

Dia ingin dibawah. Saya menjawab dengan mengusung alis, sekalian mata berkeliling-keliling.Dia mengangguk, berarti aman. Lantas, tiada mencabut batangku, Niki berbaring pelan-pelan serta saya bangun bertopang pada palang dinding bambu. Dari antara krey, di restoran terlihat dua orang tengah asik tonton TV membelakangi saung kami.Niki berbaring miring menghadap dinding pagar. Samping kakinya melonjor di lantai, samping yang lain mengait di palang bambu. Tanganku geser mainkan klitoris, sesaat batang kemaluanku keluar masuk di liang vagina Niki.Membuat birahi kami makin menggelegak. Birahi yang semakin mencapai puncak membuat Niki serta saya terbawa, tidak memperdulikan apa-apa kembali. 

Niki sekarang telentang, dia mencapai bantal untuk mengganjal pantat, mempermudah kocokan batang penis di liang vaginanya.Pinggul Niki dengan gesit berputar, sesaat saya makin cepat mengayunkan pantat, mengakibatkan gesekan penis serta vagina makin berasa menyenangkan. Tau-tau Niki menegang. Pinggulnya menggelinjang dengan hebat.Matanya terbeliak serta tangannya mencakari pahaku dengan liar. Gerakannya makin tidak teratur, sesaat kakinya membelit di pantatku. 

“Akh.. cepetaan.. Yang..!” Niki mendesah-desah. 
“Gila.. enaak sekali..!” Saat satu desiran kesenangan menyiram menjalari sekujur tubuhnya, dia menggelepar. 
“Akuu.. keluaar.. laagii.. Yang.. kkamu..!” Cakaran itu benar-benar tidak hentikan gerakanku yang tengah nikmati remasan-remasan paling akhir vagina Niki di kepala serta batang kemaluanku. 

Saya juga hampir sampai orgasme. Lantas, 

“Uhh.. saya keluaar Nik..!” Saya mengocok secara cepat serta menggelepar- gelepar tidak teratur. 

Pergerakan yang membuat Niki makin melambung- lambung. Lalu, kami berdua mengejang dengan sama-sama mendesakkan pinggul semasing.Puncak birahi Niki menggelegak waktu saya menumpahkan puncak kenikmatanku dalam-dalam membenam di vagina Niki yang meremas-remas dengan ketat, bersama dengan semburan cairan kentalku. Sesaat lalu, kami sama-sama melihat dengan diam. Diam-diam juga kami gantian ke kamar mandi bersihkan sisa-sisa tisyu, habiskan makan secara cepat (serta nyatanya tidak habis). Sekalian makan saya cuma katakan, 



“Nik, jika ada apa-apa semua tanggung jawabku.” Niki tidak menjawab cuma tersenyum, memegang tanganku erat sekalian tersenyum penuh kasih. 

Dalam perjalanan kembali pada kantor kami sedikit bicara.Cuma waktu berpisah dia berbisik, “Terima kasih, saya bahagia. Tetapi tolong lupakan..!” 

Di Kantor Semenjak momen di saung itu saya berupaya untuk berlaku biasa, ia juga. Kami masih tetap kerja bersama dengan, makan siang saling serta bercanda seperti biasa, terpenting di muka rekan-rekan. Tetapi kami hindari pembicaraan yang lebih personal, ditambah lagi mengulas momen itu. Kuat pun usahaku untuk melupakan hal tersebut, tetapi yang ada saya semakin seringkali melamunkannya. Memikirkan desahan serta rintihannya, gelinjang-gelinjangnya, terpenting remasan liang enaknya di penisku. 

Saya tidak bisa melupakannya! Makin hari saya makin tersiksa oleh bayangan Niki. Setiap saat lengan kami bergesekan, serta ini tidak bisa dihindarkan sebab memang tetap bersama dengan, getaran birahi menjalari tubuhku, serta berbuntut di selangkanganku yang mengeras. Dia sendiri kelihatannya biasa saja.Satu saat dengan cuek dia menggayut di lenganku waktu menaiki undakan ke kantin, burungku langsung menggeliat. Selanjutnya waktu pesan makanan, sekalian berdesakan dia tempelkan dadanya di lenganku.Saya langsung berkeringat, berupaya untuk masih tenang bercakap dengan yang lainnya di meja makan. Butuh 1/2 jam untuk ‘menenangkan’ burungku. Sampai satu hari, dia hadir ke tempatku. 

Ruangku terdiri atas kotak bersekat setinggi dada.Tiap-tiap kotak berisi meja serta computer untuk satu orang, yang jika duduk tidak terlihat, tetapi jika berdiri terlihat sampai dada. Diluar itu ada satu kotak yang cukup besar berperan untuk ruangan rapat, letaknya di ujung serta tetap sepi terkecuali ada meeting. Dia menghampiriku waktu saya tengah sendiri di ruangan rapat. 

“Yang, kelak bantuin yaa. Saya ingin ngelembur.” Panggilan ‘Yang’ membuat darahku berdesir. 
“Boleh. ‘Bor’-nya sapa yang ingin dilempengin.” Saya melempar canda agar cukup enjoy. 

Arti ‘ngelembur’ oleh orang kantoran sering dipanjangkan menjadi ‘nglempengin burung’. 

“Nglempenginnya sich kamu membuka internet saja. Saya sich sisi nglemesin..!” sahutnya cuek, sekalian duduk di meja rapat, pas di depanku. 

Darahku berdesir, langsung kontak ke selangkangan serta mengeras. Saya melihat ke pintu masuk. Dua orang temanku tengah bercakap asik seputar lima kotak dari tempatku, yang lainnya tengah keluar. 

“Lagi sepi..!” tuturnya, menebak arah pandanganku.Lantas dia mengubah pandangannya ke bawah, arah celanaku. 
“Tuuh.. lempeng..!” dia terkikik sekalian menyentuh dengan kakinya. 

Untuk menetralkan, saya duduk di kursi sekalian melonggarkan sisi depan celanaku. 

“Sorry, saya tidak dapat ngelupain kamu,” kataku sekalian mencari tempat yang nyaman. 
“Memangnya saya dapat..?” jawabnya. 

Dia buka pahanya dikit hingga saya semakin blingsatan, memutar-mutar kursi yang kududuki sekalian mengerakkannya maju mundur. 

“Sini dong maju, aman kok..!” Saya memajukan kursi sampai pahanya pas di depanku. 

Tidak menyia-nyiakan penawaran yang kuimpikan siang malam, tanganku dengan gemetar mulai merayapi pahanya, tetapi Niki meredamnya. 

“Sstt.. nantikan..!” dia mendorongku, lantas turun dari meja. 

Niki tempelkan pantatnya di pinggir meja sesudah roknya disingkapkan hanya pinggul. 

“Biar mudah nutup jika ada orang.” tuturnya. 



Niki memang brilian dalam membuat ‘pengamanan’.Tanganku kembali telusuri paha Niki, dengan berdebar-debar merayap selalu ke. Niki mulai mendesah, mengepalkan tangannya. Bibirku menciumi lututnya, dengan lidah kujelajahi bagian-bagian dalam pahanya sampai tanganku sampai pangkalnya.Jariku telusuri pinggir CD-nya, tetapi saya menyentuh bulu halus, sela basah, tonjolan kecil, saya ingin tahu, kurenggangkan pahanya. Nyatanya CD-nya dibolongi persis di seputar vagina, jelas saja jariku langsung menyentuh tujuan. 

“Bolong..,” saya berbisik. 
“Iya, agar mudah dipegang,” jawabnya. 
“Kenapa tidak dilepaskan saja..?” 
“Keliatan dong, ‘kan nyeplak di luar. Jika gini ‘kan, sepertinya pakai tetapi dapat kamu pegang.” dia menuturkan, kembali lagi brilian! Saya mulai menggosok klitorisnya, sesaat liangnya telah makin basah. 

Niki mengangkangkan vaginanya, pahanya diangkat menyokong di meja, kakinya dikit jinjit. Dengan berhati-hati lidahku kuselipkan di sela labia mayoranya, menyapu klitorisnya berkali-kali. Jariku yang telah basah oleh cairannya kubenamkan pelan-pelan di liangnya, kuputar-putar mencari ‘G-Spot’-nya. Waktu kutemukan, G-spot- nya kugosok lembut dengan jari tengah, sesaat di luar lidahku mainkan sisi bawah klitoris.Tidak lama Niki langsung mengejang, memegang rambutku kencang. (Waktu kami pacaran, saya belumlah tahu G-spot) 

“Yang.. udaah..!” dia berbisik, memberi saputangan untuk bersihkan jari, mulutku, serta liangnya, sekalipun buat mengganjal celana bolongnya agar tidak netes-netes. 

Tidak diduga pandangan Niki beralih serius, diteruskan dengan omongan yang tidak jelas. 

“Soalnya yang saya print kok laen sama yang dipegang bossku.” Saya bingung tetapi langsung menimpali, 
“Yang punyaku bener kok..” kataku sekalian berdiri. 

Benar saja, cewek-cewek Biro tempatku barusan masuk ruang. 

“Ya sudah, kelak dikopiin kembali saja,” sambungnya sekalian berjalan keluar, 
“Terus yang ini janganlah lupa disiapin..” waktu melewatiku, tangannya menjulur meremas sisi depan celanaku. 

Niki sudah sempat bercakap dahulu dengan teman-temanku.Berbasa basi, lantas kembali pada ruangannya. Rasa-rasanya lama sekali menanti sore. Jam 5 kantor bubar. Saya naik ke tempat Niki yang satu lantai di atasku. Niki telah menanti di ruangannya lantas mengajakku ke ruangan computer yang terdapat di samping.Dia mesti membuat undangan seminar dari boss Hongkong-nya. Kubuatkan program konversi rincian klien dari database ke format txt untuk di- merge dalam undangan, sesaat Niki lakukan cek lagi data undangan.Jam 7 malam satpam hadir mengatur seperti biasa. Niki memberi tahu jika dia masih tetap gunakan ruangan computer sampai jam sembilan. 

Saya sendiri semakin asik dengan programku, tidak mengerti jika Niki telah menghilang dari sebelahku.Sadarnya waktu HP-ku berbunyi, nyatanya Niki telpon dari ruangannya di samping. 

“Sini dong Mass..!” dia berbisik, membuat darahku kembali berdesir mengalir ke selangkangan. 

Saya meng-execute programku lantas bergegas ke samping.Ruangan di seberangku masih tetap jelas, tetapi tempat Niki telah gelap. Saya ragu-ragu, kucoba buka ruangan Niki, nyatanya tidak terkunci, saya masuk langsung tutup pintu.

“Dikunci saja..” terdengar nada Niki berbisik lirih.Ruangan itu terdiri jadi ruangan pertama tempat Niki biasa duduk, ruangan tengah untuk meeting, selalu ruangan ujung tempat bossnya. 

Saya menutup pintu selalu menghampirinya di ruangan tengah, tempat bisikan itu berasal.Dalam keremangan kulihat Niki duduk di meja meeting hampir telanjang, cuma tersisa CD-nya. 

“Buka pakaian Sayang, selalu naik sini..!” Niki menegur dengan lembut, sapaan yang membuat birahiku menggelegak.Niki duduk memeluk lutut kirinya yang ditekuk menyokong dagu. Kaki kanannya terlipat di meja seperti bersila. 

Dibawah sinar lampu yang lemah menerobos di luar, figur Niki seperti bidadari yang tengah menunggu cumbuan sinar bulan. Saya berupaya tenang, buka pakaian, sepatu, celana, lantas dengan berdebar mengambil langkah keluar dari onggokan baju serta menyusul naik ke atas meja.Niki buka tangannya, lutut kirinya pun rebah buka. Saya menyeka pipinya dengan halus waktu jari Niki menelusuri leherku perlahan, lantas dada, lantas naik mengelus lenganku, perlahan serta lembut telusuri sisi dalam lenganku mengarah ujung jari. Digenggamnya jari-jariku, dikecupnya lantas dibawa ke leher, dada, mendekapnya sekejap. 

Kemarin. . tidak diduga saya sudah tenggelam dalam dekapannya.Dadanya yang bundar penuh mendesak, memberi kehangatan yang lembut ke dadaku, kehangatan yang menyebar perlahan ke bawah perut. Tanganku menyeka punggung serta rambutnya, lantas entahlah bagaimana mulainya, tiba- datang saja saya telah menciumi lehernya.Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya, Niki menggelinjang geli. Kusodorkan bibirku untuk mencapai mulutnya, dia mendesah lirih serta merangkulku sekalian mulutnya berubah mencari bibirku, lantas kami berpagutan dengan lahap seperti kelaparan. 

Pelukan serta ciuman ini yang sebetulnya sangat kurindukan, yang tidak bisa dikerjakan waktu di saung atau di ruanganku. Cinta serta ketulusannya sekarang bisa kurasakan melalui peluk serta ciumannya. Niki terpejam manja waktu kujelajahi mulutnya dengan lidahku, bibirnya langsung mengisap serta melumat lidahku dalam-dalam. 

“Oohh, Yang..!” Niki merintih waktu tanganku mulai merayapi tubuhnya, bermain di seputar puting susu, turun ke perut menyelusup ke CD-nya. 

Masih juga dalam pelukan dia merebahkan tubuh di meja dengan dialasi jasnya si Hongkong.Sesudah rebah berdampingan kami mengendorkan pelukan, membebaskan tangan supaya lebih bebas. Kami sama-sama menyentuh beberapa bagian peka yang semasing sangatlah hapal. Niki pejamkan mata nikmati sentuhan-sentuhanku, sesaat jarinya mengurut lembut batang penisku, dari pangkal ke atas, melingkari helm lantas turun kembali ke pangkal, membuat batangku keras membatu. 

“Yang..! Jilat..!” dia mendesah, saya memahami tujuannya. 

Saya bangun, lantas bibirku mulai menciumi semua tubuhnya, dari mulai lengan sampai ke ujung jari, kembali pada ketiak, telusuri buah dadanya ke tangan satunya. 

“Yaanng, Nik kangen jilatanmu..!” Niki mengeluh serta menggelinjang makin kuat. 

Waktu jilatanku sampai pangkal lengannya, Niki kembali menelungkup. Sekarang lidahku telusuri bahu, Niki terlonjak waktu lidahku datang di kuduknya, lantas perlahan-lahan menelusuri punggungnya. Waktu jilatanku sampai pinggir CD-nya, Niki kembali menelentang lantas sekalian buka CD-nya, lidahku pelan-pelan telusur pinggang, perut selalu ke bawah.Paha Niki buka, menyodorkan bukit kemaluannya yang menggunduk dengan belahan merekah ke hadapanku. Melalui pinggir gundukannya, lidahku melaju ke samping, menjilati paha luar sampai ke jari kaki, lantas kembali pada atas melalui paha sisi dalam.Sampai di pangkal, lidahku menelusuri lipatan paha, melingkari pinggir bulu-bulu halusnya, lantas melintas ke paha samping. Niki melenguh keras. 

Saya menelusuri ke-2 lipatan pahanya bolak balik, terkadang melalui gundukan bulu-bulunya, terkadang melalui bawah liang vaginanya. Pahanya terkangkang lebar, sesaat cairannya makin membanjir. Lantas tangannya memegang rambutku, menyeret kepalaku dibenamkan ke tengah selangkangannya yang basah dipenuhi cairan kenikmatannya. Saya langsung mengisap kelentitnya. Niki tersentak, 

“Yaangg.. kamu.. nakal..!” rintihnya meredam nikmat yang menggebu-gebu.Dengan bertopang ke-2 tangan, lidahku sekarang menelusuri dengan bebas di sela vagina, menjilati klitorisnya dengan putaran teratur, lantas turun, menelusuri liang kewanitaannya. 

Niki mengejang sekalian mengerang-erang. 

“Yaang, udaah.. masukin..!” Niki mencengkeram leherku serta menyeretnya mengarah bibirnya. 

Saya ambil tempat konvensional. Batangku yang telah tegang mengeras menyentuh gerbang kesenangan yang licin oleh cairannya.Niki tersentak waktu kepala penisku menyodok di bibir vaginanya. Kubenamkan kepala penisku dikit demi sedikit, oh.. hangatnya vagina Niki. Dinding vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot, remasannya yang tetap kurindukan mulai berlaga.Kutarik kembali penisku, pinggul Niki menggeliat seakan ingin melumatnya. Kubenamkan kembali batang penisku perlahan-lahan, Niki meningkatkan pinggulnya ke atas, hingga 1/2 batang penisku ditelan vaginanya.Pinggulnya diputar-putarkan sekalian lakukan remasan enaknya. 

“Ooogghh, Niikk.. aduuhh..!” desahanku membuat Niki makin semangat menaik-turunkan pinggulnya, membuat batang penisku seakan dipilin-pilin oleh liangnya yang masih tetap sempit. 
“Maass.. tekaann Maass..! Niikii.. hh.. nikmaatt.. sekali..!” Pinggul serta badannya makin sexy, perutnya yang dikit jadi membesar membuat nafsuku makin menjadi-jadi. 

Saya 1/2 duduk dengan bertopang pada dengkul menggenjot penisku keluar masuk vagina Niki yang makin berdenyut. 

“Creekk.. creekk.. blees..” gesekan penisku serta vaginanya seperti kecipak cangkul Pak tani di sawah berlumpur. 
“Yaang, aduuhh, batangnyaa.. oohh.. Niik.. nggaak tahaan..!” Niki badannya bergetar, pinggulnya turun naik dengan cepatnya, miring ke kiri serta ke kanan rasakan kesenangan penisku. 

Tubuh Niki berguncang-guncang keras, goyangan pantatnya lebih menggila serta lubangnya seolah ingin memeras habis batang penisku. Spermaku rasa-rasanya telah mengumpul di kepala penis, siap menyembur setiap saat, sulit payah saya bertahan supaya Niki sampai klimaks terlebih dulu. 

“Teken teruuss..! Yuu bareng keluariin Maass..!” Goyangan kami semakin menggila. 

Saya menusukkan batang penisku 1/2, serta tiap-tiap coblosan ke delapan saya menekannya dalam-dalam. Mengakibatkan gelinjang pantat serta pinggul Niki makin menjadi-jadi. Sekalian mengelepar-gelepar kesenangan, matanya merem-melek.Kuciumi serta kulumat semua mukanya, bibirnya, lidahnya, ludahnya juga kusedot dalam-dalam. Niki mencakar punggungku keras sekali sampai saya tersentak kesakitan. Itu pertanda dia ingin sampai klimaks. Kutahan mati-matian supaya saya janganlah muncrat dahulu sebelum dia orgasme. Tidak diduga, 

“Yaanng.. oohh.. aduhh.. Niik.. keluaar.. oohh.. aduuh.. gilaa.. aahh. aahh.. uuhh.. uuhh.. uuhh..!” ia satu kali lagi mencakariku, itu memang kesukaannya jika meregang meredam klimaks mengagumkan. 

Saya tidak peduli punggungku yang baret-baret oleh cakarannya. Saya selalu menggenjotkan penis secara teratur sekalian konsentrasi rasakan nikmat yang makin mendesak-desak di ujung penisku. Satu gelombang dahsyat seperti mengisap semua perasaanku menyembur dari ujung kemaluanku, memancar dalam dalam di liang vaginanya. Saya mengejang beberapa menit, lantas terkulai dalam pelukannya.Beberapa waktu kami berdiam sekalian pelukan, sampai batangku melemas dengan sendirinya. Saya turun dari tubuhnya. Niki turun dari meja, ambil tisyu serta teko air dari meja si Hongkong. Lantas kami bersih-bersih organ semasing, kembali berciuman sekalian sama-sama kenakan pakaian. 

Tuntas kenakan pakaian Niki keluar duluan melihat, dengan kodenya saya keluar kembali pada ruangan computer, disana satpam telah menanti.film bokep semi click di tempat ini Kukatakan saya dari kamar mandi, serta Niki tidak tahu kemana. 

“Kenapa..? saya dari bawah baru saja.. melalui tangga.” Niki tampil di pintu, memberikan keterangan. 
“Lho, saya pun melalui tangga..” kata satpam. 
“Ooo.. Naiknya sich melalui lift depan,” Niki berkilah.Program transferku telah berhenti proses. 

Sesudah beres-beres, mematikan computer, AC, serta yang lain, saya, Niki serta satpam turun. Kuantar Niki sampai mobilnya. 

“Thank’s yaa..” kataku. Dia mengedipkan mata, “Sama-sama..” tuturnya. 


REPOST BY : SITUS POKER ONLINE

Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Dan Terbaik Di Indonesia