Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Di Indonesia

Sabtu, 12 Januari 2019

Kisah Seks Skandal Ngentot Pembantu Di Kamar Mandi


Cerita Sex Skandal Ngentot Pembantu Di Kamar Mandi – Waktu itu saya tengah disuruh mengawasi rumah adik, sebab keluarganya akan pergi sampai sore serta Tinah tinggal di dalam rumah, sebab keadaan perutnya yang kurang baik. Mendekati keberangkatan keluarga adik, saya telah hadir disana. 

“Mas..Tinah di dalam rumah, perutnya cukup kurang beres. Mis yang tidak bawa“, adikku memberitahu. “Oo..ya“, jawabku. Tidak berapakah lama mereka sudah pergi. Saya bergegas masukkan sepeda motor ke rumah. Tinah lantas menutup pagar. Saya masuk rumah lantas cepat – cepat duduk di muka computer, searching,
sebab suami adikku menempatkan internet untuk memberi dukungan tugasnya. Mengecheck e-mail; mencari informasi ini itu serta..tentu saja get into DS..he3x. 10menit lalu Tinah menyediakan satu gelas es teh untukku. “Makasih ya Tin“, ucapku. “Iya Pak..silahkan diminum“, kata Tinah. Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan menyebut “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, walau sebenarnya terdengar dikit asing di telinga.

Tinah lantas kembali pada dapur, saya lantas minum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca dikit panas walaupun cukup mendung. 

Tinah kembali masuk ruangan keluarga, membereskan mainan – mainan anak adikku. Tempat meja computer serta mainan yang bersebaran di lantai beda dua kotak. Sebelumnya saya belumlah ngeh akan hal tersebut. Sebelumnya mataku memandang monitor computer di situs DS. Waktu Tinah mulai masukkan kembali mainan – mainan ke keranjang, baru saya mengetahuinya. Kadang-kadang saya meliriknya. “Sedikit putih nyatanya anak ini. Bodinya biasa saja sich, langsing serta sepertinya masih tetap padat. Wah..ini gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata. Sebab jarak kami yang cukup dekat, jadi saat Tinah bersimpuh di lantai membereskan mainan di keranjang, automatis kaosnya yang dikit longgar menunjukkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna biru. Tinah jelas tidak paham kenakalan mataku yang tengah memandang beberapa keindahan tubuhnya. “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tidak berasa penisku mulai jadi membesar, “Ke kamar mandi mbetulin tempat penis nih..sekalian kencing“. Computer kutinggal dengan monitor bergambar Maria Ozawa tengah disetubuhi di kamar mandi. Saya lantas masuk kamar mandi, buka jins serta cd lantas keluarkan penis. Cukup sulit pun kencing dengan penis yang dikit tegang. “Lah..pintu lupa tidak tutup“, saya terperanjat. “Terlanjur..tidak ada orang yang lain kok“, saya mendinginkan diri.

Saya keluar dari kamar mandi serta kembali duduk di muka computer, meneruskan ngubek – ubek DS. “Cari cemilan di meja makan ah..jadi lapar“. Saya mencari apakah yang dapat dikonsumsi untuk temani aktivitas nge – net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega serta selai kacang serta diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..nikmatnya. Kelak membuat kembali ah..ada banyak rotinya“. Rumah adikku type cukup kecil, jadi jarak antar ruang cukup dekat. Letak meja makan dengan kamar pembantu cuma 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Tinah tengah di kamarnya entahlah bekerja apakah. Tuntas mengakhiri semiran roti, saya kembali pada ruangan keluarga yang melalui kamar pembantu serta kamar mandi mereka. 2detik saya serta Tinah bertatapan mata, tidak ada suatu, biasa saja. Kumakan roti sekalian n – DS kembali. 

Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah tengah membersihkan perlengkapan dapur atau tengah mandi. “Belum mengambil air putih nih..“, tidak ada tujuan apakah – apakah dengan nada air itu. Cuma kebetulan saya belumlah minum air putih, walaupun sudah ada es teh. Saya ke ruangan makan kembali serta ambil gelas lantas ke arah dispenser. Mata serta pikiran cuma tertuju pada air yang mengucur dari dispenser. Baru sesudah melalui kamar mandi pembantu ada yang special disana. ”Lah..pintunya kok dikit mbuka. Tin lupa serta tengah apakah di..moga tidak mandi. Dapat dilaporin ngintip aku”. Masih tetap tidak tampak kegiatannya, sesudah tangan yang tengah meraih gayung serta kaki yang diguyurnya baru saya ngeh..Tinah tengah mandi. 


”Duhh..peluang begitu – begitu langka ini..tetapi..jika ia teriak serta kelak lapor adikku..dapat kritis bin permasalahan. Berlagak tidak simak saja ahh”. Saya tutup pintu kaca ruangan makan serta melalui kamar mandi Tinah. Datang – datang ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..bagaimana nih”, terdengar kericuhan disana. ”He3x..nyatanya ia takut kecoak toh”, saya tersenyum sekalian pegang gelas waktu melalui kamar mandi. 

”Pak..Pak”, Tinah memanggilku. ”Walah..justru panggil saya. Bagaimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar kelanjutan kalimatnya. Semenjak Tinah bersuara, saya telah berhenti serta diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak yang masuk jam kecoaknya..mumpung masih tetap ada”, sambungnya. Deg..”Ini..pada impian yang jadi riil serta ketakutan jika dilaporkan”, saya berfikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk saja..tidak pa – pa. 

Tidak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Tinah tahu keraguanku. ”Jangan ah..kelak jika ada yang tahu atau kamu laporin dapat rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..ia ingin geser lagi”, Tinah kembali meyakinkanku serta minta saya cepat masuk sebab keliatannya si kecoak ingin lari kembali. ”Ya sudah jika begitu. nanti..mengambil sandal dulu”. Sekalian masih menimbang, take it or leave it. Saya menyimpan gelas di meja makan lantas ambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu. Entahlah rezeki atau kesialan bagiku mengenai kehadirannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih tetap sangsi diriku. ”Masuk saja Pak”, Tinah masih membujukku. Kubuka pintu kamar mandi dikit, lantas kuintip letak kecoaknya, belumlah tampak. Pintu dibuka lebih kembali oleh Tinah. Kepalanya dikit tampak dari balik pintu serta tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuch Pak ingin lari lagi”. Saya memandangnya serta mulai masuk. Tinah berdiri dibalik pintu dengan menutupi dikit sisi tubuhnya dengan handuk. Tampak paha; bahu serta daging susunya. Dan rambut yang diikat di belakang kepalanya, walaupun cuma dikit semua. Handuknya menutupi sisi paha ke atas, perut sampai sisi dada, warna biru, yang disangga tangan kirinya. Semua hal tersebut dari ekor mataku, sebab fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus serta cukuplah putih”, masih tetap sudah sempat saya memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami cuma 2 – 3 langkah, tidak ada orang yang lain kembali di dalam rumah.


”Plak..plak”, kecoak juga mati dengan sukses. Saya guyur dengan air supaya masuk ke lubang pembuangan. Tiada pikirkan selanjutnya, saya lantas mengambil langkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..telah nolongin”. ”Oh..iya..”, sekalian kutatap ia serta Tinah tersenyum. ”Bapak tidak bersihkan tangan sekalipun..di sini saja”, tawar Tinah. ”Wah..ini. Semakin membuat dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Saya akan membersihkan tangan dengan sabun, yang nyatanya tempat tempat sabun berada di belakang badan Tinah. Saya melihat ke belakang tubuhnya. Rupanya ia baru sadar, lantas mengambil sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang dikit basah beralih serta tangan kami harus bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku. Saya membersihkan tangan serta kembalikan sabun kepadanya. ”Bapak tidak..sekalipun mandi”, bertanya Tinah. ”Waduh..penawaran apalagi ini. Lebih gawat”. ”Iya..kelak di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..janganlah. Di muka saja. Jika di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalipun saat ini sama saya. Kalkulasi – kalkulasi Bapak telah nolongin saya”. Matanya meminta. Deenngg, satu lonceng menggema di kepala. ”Ini ajakan yang membahayakan, pun menyenangkan”, pikirku. ”Bapak tidak perlu mikir. Saya tidak akan katakan siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, ia mengerti kekhawatiranku. ”Emm..ya sudah jika kamu yang meminta gitu”, jawabku. 

Entahlah kenapa saya terasa canggung waktu akan buka kaosku. Walau sebenarnya tidak ada orang yang lain dan kadang-kadang ke pijat plus. Saya membuka jam tanganku dahulu, lantas saya keluar dari kamar mandi serta kuletakkan di meja makan. Tempat Tinah masih di belakang pintu, dengan tangan kanan meredam pintu supaya masih cukup terbuka. Kembali pada kamar mandi, kubuka kaosku serta kusampirkan di cantolan yang melekat di tembok. ”Pintunya tidak ditutup saja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sebenarnya tidak membutuhkan jawaban, cuma basa basi. “Nggak perlu Pak..kan tidak ada siapa – siapa”, jawab Tinah. Lantas kubuka jinsku, kusampirkan juga. Sekejap saya masih tetap sangsi melepas kain paling akhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak tidak nglepas celana dalam ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sedapat mungkin kutahan tidak mengembang, tetapi cuma dapat kutahan mengembang ¼ – nya. Menyengaja kutatap matanya waktu melepas cd – ku. Mata Tinah dikit jadi membesar. Kusampirkan pun cd – ku. Lantas dengan tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sejak dari barusan tutup beberapa tubuhnya. “Duh..pantatnya masih tetap ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita simak keadaan dulu”, kataku pada sang penis sekalian kuelus.



Tinah lantas mengubah tubuh. Cegluk, nada ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih tetap juga bagus. Pentilnya tidak sangat besar, areolanya pun, warnanya cocok..tidak item sekali. Perutnya dikit rata serta..hmm..rambut bawahnya cuma sedikit”. Harus, penisku semakin mengembang serta itu jelas disaksikan Tinah. Kembali sedapat mungkin kutahan perubahannya. Tinah lantas menyikat gigi dulu. Sebab saya tidak membawa sikat gigi, cuma berkumur dengan obat kumur. “Bapak saya mandiin dahulu ya”, kata Tinah. “Terserah kamu”, jawabku sekalian tersenyum. Tinah lantas ambil segayung air, diguyurkan ke tubuh dari leher serta bahu. Ambil kembali segayung, diguyurkan ke perut serta punggung ditambah senyum manisnya. Dia lantas mencapai sabun, digosok-gosokkan ke leher; bahu; dada serta tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air lantas digosok-gosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku. “Uhh..bagaimana dapat nahan penis tidak ngembang”. Bagaimana tidak, waktu menggosok penis serta bola – bolaku menyengaja digosok serta di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lantas menatapku serta tersenyum. Saya cuma dapat membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya kembali segayung air, sabun dibasahi serta bekasnya diguyurkan ke paha serta kaki lantas digosoknya. Sabun lalu ditempatkan di tepi bak mandi, lalu ambil segayung air serta diguyurkan ke tubuh depanku. Mengambil segayung kembali serta diguyurkan kembali, tidak lupa senjataku dibikin bersih dari bekas – bekas sabun. Dikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar Tinah yang pegang kendali”. 

“Balik tubuh Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung serta sisi bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lantas paha serta kaki bagian belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis serta bola – bolaku serta meremasnya. “Duh..ni anak. Membuat senewen..menyengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur badan belakangku, sekitar 3x. Dibalikkan badanku lantas mengguyur senjataku, digosok – gosoknya sampai dikit memerah. Jantungku semakin berdebar. “Sudah tuntas Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“. “Emm..kamu ingin tidak mandiin pun ?“, kepalang basah, kutawarkan keinginan seperti ia barusan. “Nngg..tidak perlu Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lantas kuguyur ke badan depannya. Dia cuma menatapku. Kuambil kembali segayung. Lantas sabun tadi tergeletak di tepi bak mandi kuambil serta saya basahi. Kugosok leher; bahu; serta ke-2 tangannya. Kubasahi sabun kembali serta kugosokkan ke dada; ke-2 susu serta pentilnya; dan perut. Kutatap matanya waktu kugosok ke-2 gunungnya yang kumainkan dikit pentil – pentilnya. Tinah pun menatapku. Matanya mulai dikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya, lantas dikit kuremas susu kirinya. Bibirnya dikit membuat huruf o kecil serta “ohh..hhmm“. Kubasahi kembali sabun, serta kugosokkan ke pinggang; paha serta ke-2 kakinya. Vagina luar cuma kusentuh dikit dengan sabun, takut perih serta iritasi kelak. Itupun cukup sudah membuat matanya semakin meredup. Air segayung lantas kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok serta kuremas dikit keras dua gunungnya. Dikit berguncang. Dua tangan Tinah menggenggam tepi bak mandi, mulai erat. Kumainkan kembali pentil – pentilnya.



Saya merundukkan tubuh serta kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tidak butuh kembali ijin darinya. Tangan kiriku menyeka – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seolah bernada memprotes, tetapi Tinah diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lantas kuguyur punggungnya saat ini. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat. Sabun kubasahi kembali lantas kugosokkan ke paha serta kaki sisi belakang. Saya telusuri badan depannya kembali dari pinggang belakangnya. Tinah dikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Saya suka bermain – main di susu yang bagus atau masih tetap ok. Semua belakang lehernya saya cium serta kecup, begitupun dua kupingnya serta kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Tinah mendesah kembali. Dua pucuk bunganya semakin mengencang serta keras. Saya menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio. Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku ambil segayung air, kuguyur ke badan depannya. Kesempatan ini kuusap – usap vagina luarnya dengan tangan kanan, tengah yang kiri masih di susu kanan Tinah. 

Pahaku semakin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri serta kanan bersamaan kecupan serta ciumanku di belakang leher serta daun – daun telinganya. Kadang-kadang saya menyentuh bibir dalamnya. Berasa sudah menghangat serta dikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan dikit serta kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, tengah jempol kananku kutekan – tekankan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku – kuku jemari Tinah berasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang mengawali kan”, bisikku. Tangan kiriku mencapai kepalanya serta kupalingkan ke kanan, serta kutahan lantas kucium dengan suara 2 kecup 1 masukan lidah. Tinah terperanjat, matanya dikit jadi membesar tetapi lalu dia menikmatinya. Ubah tangan kananku lakukan hal sama. Tinah cuma dapat keluarkan nada yang ketahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, demikian berulang. Vagina dalamnya semakin hangat serta basah. Dengan datang – datang kuhentikan lantas kubalikkan badannya menghadapku. Lalu saya sandarkan tubuhnya di bak mandi. Saya lalu berjongkok serta mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..kotor..”, dengan dua tangannya meredam laju kepalaku. Kutatap matanya serta ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri serta kanan tubuhnya. 

Kukecup kecil, sekali 2x. Lalu lidahku mulai menjulur di pintu kesenangan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Tinah cukup malu rupanya, tapi ada dikit senyum disana. Lidahku semakin intensif menyerang vagina luar serta dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, dibarengi geliat badan yang semakin jadi. Sebab tidak tahan dengan seranganku, dua tangannya meremas serta dikit menarik rambut serta kepalalu. Cairan lavanya semakin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku kadang-kadang kumasukkan ke vagina dari belakang lantas kesentuhkan serta kutekan dikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs 

ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya cukup membeliak ke atas serta kepala dan rambutku diremasnya kuat. Lava kenikmatan dianya mengalir deras, rasa-rasanya gurih dikit manis. Kudekap erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya serta pantatnya kuremas – remas. Kepalaku masih diusap –usap oleh Tinah. 
Dia menarik kepalaku serta menciumnya ganas. Makin lama Tinah bisa belajar dariku. Tangan kanannya meremas serta menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, bertanya Tinah. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan mainkan bola – bolaku. Tinah merundukkan tubuhnya lantas tangan kirinya menggenggam penis serta menciumnya. Mungkin dia tidak pernah meng – oral suaminya dahulu karena penisku cuma di cium – cium serta diremas – remas. ”Kamu ingin ngemut burungku Tin..seperti ngemut permen lolly ? Tetapi jika tidak pernah ya tidak perlu..tidak pa – pa”. Tinah menatapku serta kubelai rambutnya. Dengan muka sangsi didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai buka mulut, dikit demi sedikit penisku masuk mulutnya. Tinah menatapku kembali, minta keterangan langkah setelah itu. ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..begitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat memahami keterangan gurunya. Rambut serta kepalanya kubelai serta kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

Kuangkat kepalanya dari penisku serta kami berciuman dengan panas. Sama-sama meremas susu; pantat serta kelamin masing – masing. Lantas kubalikkan kembali tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di tepi bak mandi. Kembali saya bermain – main di gunung Tinah. Penisku yang sudah panas serta mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup bahu serta leher belakangnya. Ikat rambutnya saya terlepas hingga dianya tampak semakin seksi saat menggeliat – geliat serta rambutnya tergerai kesana kemari. Saya geser – geserkan penis di pintu surgawinya, menyengaja saya mempermainkan rangsangan pada Tinah. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu ingin burungku kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya semakin kencang. Kumasukkan penis perlahan – perlahan. ”Eemmppff..”, erangnya. Lantas kuhentakkan perlahan sampai penisku berasa menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Saya menggerakkan badan perlahan – perlahan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang masih tetap kuat. Dua tanganku tidak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 perlahan 3 kuhentakkan dalam – dalam. Lantas tangan kananku mencapai kepalanya seperti barusan serta kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah semakin hangat serta banjir kelihatannya. Dua tangannya mencengkeram erat tepi bak mandi. 


Saat ini tiada hitungan, kumasuk mengeluarkan penis cepat serta kuat. ”Oohh.. 
oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Tengah saya dikit menggeram serta ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu nikmatnya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku serta pantat Tinah semakin rapat. Tangan kanan kuusap – gosokkan di vaginanya. Dalam kamar mandi cuma ada nada tetes air satu – satu dan desah, bunyi beradunya paha serta pantat serta erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”. ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di apakah di llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaa lllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah. Dengar itu serangan semakin kufokuskan. Semua yang berada di tubuhnya saya remas. Dua tangan Tinah tidak tahan di tepi bak mandi serta mencengkeram paha dan pantatku. Bibirku dicarinya lantas ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat. Bibirnya dilepaskan dariku serta ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat berasa mengaliri penisku yang masih tetap kerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat badan depannya. Kukecup serta kugigit leher belakangnya. Lantas tangan kiriku mencapai kepalanya serta kucium dalam – dalam. Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu tengah yang kanan di vaginanya. 

Lama kami berposisi semacam itu. ”Makasih ya Tin..kamu sangat baik. Enak sekali tubuhmu”, kataku dengan mengubah badannya serta kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan kembali, masih tetap ingin berlama – lama di hangatnya vagina Tinah. ”Saya yang terima kasih Pak. Telah lama saya pingin tetapi sama orang tidak kenal kan tidak mungkin Pak. Burung Bapak cocok di mpek saya”, Tinah menjawab serta mencium bibirku juga. ”Mpekmu masih tetap kuat nyengkeramnya..serta panas”. Kubelai – belai kepalanya, ”kok dapat kamu pingin ngajak main sama saya ? Justru saya yang takut kamu laporin”. Sekalian menyeka – usap punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya simak gambar di computer. Selalu waktu Bapak kencing barusan kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang cukup gede cocok keluar dari celana”. ”Oo begitu..nakal ya kamu. Bener kamu masih tetap nyimpen obatnya ?”, sekalian kucubit pipinya. ”Masih kok Pak..bekas yang dulu”, jawab Tinah. Lama-lama berasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam kembali bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. ”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sekalian tersenyum manis. Dia lantas memelukku erat. Saya membalasnya dengan memeluk erat serta menyeka – usap punggung dan kepalanya. TAMAT

REPOST BY : SITUS POKER ONLINE


Rajabakarat Situs Casino Online Terpercaya Dan Terbaik Di Indonesia